Kumpulan Cerita Bokep Online Terpanas di Indonesia.

cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita ngentot, cerita panas, cerita sex sedarah

PETUALANGAN SEKS TERLIAR (BAGIAN 1) - Bokep Terkini

PETUALANGAN SEKS TERLIAR (BAGIAN 1)

PETUALANGAN SEKS TERLIAR

Cerita Dewasa - Dari Banjarmasin, Mas Adit telepon bahwa besok, temannya yang bernama Rendi, mau ambil beberapa file penting yang ada dikomputer rumah untuk keperluan kantornya. Aku sempat berpikir, selama 8 tahun pernikahan, rasanya belum pernah ada tamu lelaki saat Mas Adit tidak di rumah. Ah, mungkin ini hanya kebetulan saja. Dan Mas Adit sendiri yang meminta agar aku menerima temannya itu karena ada hal, tentu yang sangat penting, yang harus di ambil dari komputernya. Besoknya, sekitar pukul 9 pagi, ada mobil parkir di depan rumah. Seorang pemuda, tampan dan jangkung memakai jaket untuk membungkus badannya yang bidang, turun dari mobil itu, menyampaikan hormatnya.  

"Pagi Bu. IBu Adit? Saya Rendi, Bu. Apakah Pak Adit sudah menelepon Ibu, bahwa saya akan kemari? Saya memerlukan beberapa file di komputer beliau untuk keperluan kantor yang harus saya dapatkan hari ini, Bu. Saya harap tidak akan mengganggu Ibu".  

"O, ya, Dik Rendi ya. Ya, kemarin Mas Adit telepon saya. Silakan masuk, komputernya di sini dik", aku persilakan Rendi mengikutiku ke tempat ruang kerja Mas Adit. Dia membuka jaketnya, mungkin merasa gerah di rumahku yang sempit ini. Aku lihat dia keluarkan beberapa lembar disket dari kantong kemejanya dan langsung menyalakan komputer Mas Adit. Aku sempat pula melirik dengan rasa kagum akan postur tubuhnya yang bidang itu. 

Aku menawarkannya minum. 

"Terima kasih Bu, jangan merepotkan Ibu. Saya tidak lama koq".  

"Ya, aku buatkan saja teh panas di cangkir".  

Kemudian nampak Rendi mulai berkutat di depan monitor dan keyboard mencari file yang dimaksud. Rupanya Mas Adit sudah memberikan ancar-ancar di lokasi dan folder mana, sehingga file itu langsung Rendi dapatkan dan nampak dia telah menekan ikon copy ke directory A, tempat disket yang dibawa Rendi tadi. Mungkin hanya sekitar 10 menit, semua yang dilakukannya telah selesai. Kemudian Rendi minta ijin untuk ke toilet sebentar. 

"Silakan, itu di samping ruang makan", kupersilakan dia. Tak ada hal-hal yang istimewa dari kedatangan Rendi pagi ini. Kecuali memang kalau aku perhatikan teman Mas Adit ini termasuk pria yang tampan. Penampilannya nampak bersih dan apik. Maklumlah orang kantoran. Dia harus tampil "perfect" di depan para relasinya.

Agen QQ - Sementara Rendi ke toilet, aku melanjutkan bebenah kamar tidurku sebagaimana yang rutin aku lakukan setiap pagi hari. Beberapa saat kemudian aku mendengar pintu kamar mandi terbuka dan langkah Rendi kembali menuju komputer di ruang kerja suamiku. Karena tanggung oleh pekerjaanku di kamar tidur aku tidak serta merta menyambanginya.

"Ah, teman Mas Adit ini saja", pikirku. Saat itu aku sedang membetulkan seprei ranjang bekas aku tidur semalam. Pintu kamar tidurku terbuka dan kebetulan aku sedang dalam posisi bertumpu pada lututku di lantai membelakangi pintu kamar. Aku mendengar suara langkah yang halus.  

"Bu.., Bu Adit..", kudengar suara Rendi dan aku menoleh ke pintu. Aachh, apa yang nampak berada tepat di belakangku sama sekali berada di luar nalarku. Rendi, Rendi, benarkah ini, benarkah kamu Rendi. Di depanku yang sedang berposisi setengah jongkok di lantai, Rendi berdiri tanpa celana panjangnya dengan kontolnya yang keluar dari samping celana dalam putihnya dan diacung-acungkannya padaku. Sementara itu kemejanya juga setengah terbuka hingga menampakkan gumpalan dadanya. Bagai terkena sihir nenek lampir, aku terpana, tak berkutik serasa ikan duyung yang terjerat dalam jaring nelayan, tak berdaya, dikarenakan seluruh bentuk kehendak dan jiwaku langsung terlempar jauh melayang tanpa tahu ke tempat mana akan jatuh tujuannya.

Dan sihir itu juga membuat mataku langsung tak mampu berkedip maupun mengelak atau melepas pandanganku pada kontol Rendi yang hanya berjarak sekitar 2 jengkal dari wajahku. Aku langsung lumpuh, jatuh terduduk dengan punggungku yang tersandar pada ranjang. Aku ditimpa shock hebat hingga kehilangan setengah kesadaranku. Bahkan telingaku juga serasa tuli kecuali hanya mendengar suara jantungku yang dengan kerasnya sekana memukuli dadaku. Tidak sepenuhnya sadar pula ketika tanganku menggapai-gapai tepian ranjang untuk berpegangan agar tubuhku tidak limbung terjatuh.  

"Mbak Adit..", itu suara bisikan. Suara Rendi. Rendi bersuara dalam bisikan. Tetapi karena hanya suara itu, di samping suara jantungku sendiri yang memukuli dada, bisikkan itu terasa seperti suara guruh yang menggulung membahana di telingaku. Aku ingin sekali menyahut suara Rendi, semacam refleks reaktif dari apa yang membuatku shock hebat ini, tetapi lidahku dijerat kelu. Akupun seketika bisu total. Dan mataku, oohh mataku, kenapa aku tidak mampu melepaskan pandanganku pada kontol itu. Dan leherku, mengapa leherku juga terbawa beku dan tidak mampu untuk memalingkan wajahku dari kemaluan Rendi itu. Dan yang terasa memukau pandangan dan perasaanku itu adalah adanya semacam pesona. Wajah dan mataku terpaku pada pesona erotik yang sensasional dan sangat spektakuler, kontol itu, betapa indahnya, betapa sedapnya, betapa nikmatnya. Rasanya aku tak lagi memiliki kesabaran untuk mengulum, mencium dan menjilati kontol seperti itu. Dan kepalanya itu yang bak jamur memerah mengkilat dikarenakan seluruh darah yang telah mendesak di sana.

Agen Domino99 - Lubang kencingnya yang nampak berlubang gelap di tengah bibir lubangnya yang begitu ranum. Warna batangnya yang coklat muda kemerahan yang dikelilingi urat-uratnya yang juga demikian indahnya, tampak sangat serasi dan sangat bersih. Tak terbayangkan bahwa ada kontol seindah itu di dunia. Penampilan kontol itu mencuatkan refleks biologisku. Lidahku bergerak menjilat bibir. Betapa ingin aku melumatinya. Aku menelan liurku sendiri dalam upaya menekan keinginan yang meledak-ledak untuk menelan kontol itu.  

"Mbak Adit..", kembali bisikan itu terdengar. Kali ini sedikit memberikan kesadaran bagiku. Aku menyadari bahwa kini Rendi memanggilku "Mbak", bukan lagi "Ibu". Aku jadi menyadari bahwa dia ingin lebih dekat kepadaku. Dan memang, kontol yang sangat mempesonakan mata dan hatiku itu sepertinya sengaja kuundang untuk bergerak mendekat. 

Dan dengan sekali bisikan lagi, "Mbak Adit..", kontol itu telah menyentuh wajahku. Mengusap-usap pipi, hidung dan bibirku. Langsung aroma kelelakian Rendi menerpa hidungku, yang kemudian menembus masuk keparu-paruku dan dengan tajamnya menghunjam ke sanubariku. Sihir nenek lampir itu dengan seketika membuatku lumpuh total. Dan aku tak mampu menolak saat kontol yang terus diusap-usapkan serta mendesak wajahku dan memaksa bibirku terkuak. Rendi terus mendesak-desakkan kontolnya itu, terus mendesak. Dan aku, hidungku, bibirku dan lidahku bak anak kecil yang disodori es cream yang super lezat hingga ingin langsung menjilatinya. Dan kini, dengan disertai desah dan lenguh dari mulutku, bibirku pelan-pelan begerak melumat. Lidahku mulai menjilati jamur itu.

Aku, bibirku mulai mengulum daging yang terasa kenyal itu di dalam mulutku. Kukulum, dan kemudian lidahku memindahkan segala rasa pada jamur itu dan membawanya masuk ke mulutku. Kontol itu benar-benar telah meruntuhkanku. Kontol itu telah meringkusku. Kontol itu telah membuatku kehilangan nalar sebagai istri setia Mas Adit. Kontol itu telah meluluh lantakkan dan melumatkanku sebagai istri yang untuk kesekian kalinya telah ingkar dan berselingkuh pada suaminya. Pesonanya yang dahsyat dalam bentuknya yang indah sensual, ototnya yang membuat batangnya menjadi sangat keras dan berkilat serta kekuatan erotik yang memancar dari kontol Rendi itu membuatku kini terduduk dengan bibirku yang penuh terjejali dan melumatinya.  

"Aacchh.. Mbak Adit.. aachh.. Marini.., kamu cantik sekalii Marr.. bibirmu sangat indah Mbak Marr..", desah nikmat Rendi demi melihat bibir mungilku yang telah penuh oleh kontolnya. Aku tidak lagi peduli akan suara-suara di sekitarku, yang kupedulikan kini adalah bibirku yang terus melumat-lumat dikarenakan pancaran pesona dahsyat kontol Rendi yang aroma, besar dan panjangnya mampu membuatku terlempar melayang dalam jerat erotik tanpa batas. Belum pernah aku menyaksikan pesona kontol seindah, sebesar dan sepanjang itu.

Bandar Q - Aku tidak mampu mengukur seberapa besar ukuran sebenarnya. Yang kucoba mengingatnya hanyalah bahwa ukuran kontol Rendi yang mungkin 3 atau bahkan 5 kali lebih besar dan lebih panjang daripada kontol Mas Adit, hingga pesona erotiknya dapat melambungkan nafsu birahiku hingga jutaan kali nikmatnya. Oohh, ampuni aku Mass, aku telah terjajah dan diinjak-injak oleh birahiku sendiri Maass.. ampuni aku Maass..  

Kini aku mulai menyadari bahwa sihir yang menimpaku ini adalah gelombang dahsyat yang menyeret dan menguras seluruh libidoku. Kontol Rendi telah membangkitkan gelombang dahsyat pada diri pribadiku. Dan mata hatiku, sang nakoda yang lemah ini, tak mampu lagi menanggulanginya kecuali akhirnya pasrah dalam sejuta kenikmatan yang ada dalam ingkar dan selingkuh pada suaminya. Dan yang terasa kini adalah prahara birahi yang merambat seluruh nurani dan organ-organ tubuhku. Dan saat ada tangan-tangan yang membongkar dan melepas busanaku, aku telah berada dalam penantian yang penuh nafsu. Dan ketika terasa jari-jari tangan Rendi memelintir puting susuku, tak terbayangkan lagi, entah di langit yang ke berapa aku melayang-layang dalam nikmat birahi tak terperikan ini.  

Tiba-tiba saja kusadari bahwa tubuhku telah telanjang bulat. Dan tiba-tiba kusadarai bahwa Rendi juga telah dalam keadaan telanjang bulat dengan selangkangannya yang mengangkangi wajahku. Dan aku menjadi seperti anak lembu yang menyungkupkan mulutnya ke susu induknya untuk mencari jawaban atas kehausannya yang melanda dengan hebat. Mulutku dan bibirku kusorong-sorongkan ke biji pelir dan pangkal kontol Rendi untuk meraih kenikmatan yang telah Rendi siapkan sepenuhnya. Tanganku yang kini tak bisa kutolak kemauannya itu, ikut ambil bagian menggenggam kontol Rendi, menaikkannya lekat-lekat ke perutku hingga kini mulutku lebih leluasa mencium dan menjilati pangkal dan bantangan kontol itu. Desahan dan rintihan yang terus keluar dari mulut Rendi menjadi pendorong semangat mulutku agar lebih ganas menjilatinya. Cekalan jari-jari Rendi pada urai rambutku menjadikanku lebih liar menyusup-nyusup ke biji pelirnya. Aku kini telah sepenuhnya terbakar nafsu birahiku. Tak ada lagi hambatan dan rambu-rambu yang bisa menghentikan. 

Tidak ada protes dan sanggahan saat tangan-tangan kokoh Rendi mengangkat dan membimbing tubuhku naik ke ranjang. Dengan pantatku tetap di tepian ranjang dan lutut yang bertumpu di lantai, aku telungkup di kasur tempat tidur pengantinku yang biasa aku tiduri bersama Mas Adit suamiku. Dan tanpa ada waktu untuk berfikir, aku rasakan tubuh Rendi sudah menindih tubuhku. Dia pagut kudukku, dia pagut leherku, dia pagut tengkukku, bahuku, dia pagut dan jilati seluruh bukit dan dataran punggungku. Dia tinggalkan cupang-cupang berserak bekas-bekas sedotan hisapan bibirnya di seluruh wilayah yang dijarah bibir dan lidahnya. Dia buat kuyup seluruh pori-pori tubuhku. Tangannya menggapai tangan-tanganku yang terentang di kasur, dia remasi jari-jariku untuk bersama-sama menelusuri nikmat. Dan itulah awal tangan-tangan Rendi memulai menyusuri lenganku hingga wilayah ketiakku yang terus berlanjut ke buah dadaku. Remasan-remasan tangannya ke kedua payudaraku memaksak mendesah dan merintih dengan hebatnya.  

"Rendii.. ampuunn.. Rendii..". Dan kemudian aku langsung terhempas ke awang-awang yang sangat tinggi saat bibir dan lidahnya meluncur dari punggungku, melewati wilayah pinggulku langsung turun lagi untuk mendesak belahan pantatku.Aku benar-benar tidak mampu mengelak dari kenikmatan tak terperi yang diberikan Rendi ini, maafkan aku Mas Adit. Baru kali ini ada seseorang yang dengan sukarela menjilati pantatku, lubang duburku, lubang pembuangan kotoranku. Lidah Rendi membor lubang pantatku. Bibirnya menyedot cairan yang keluar dari pantatku. Dia tidak jijik dengan semua itu. Dia lahap semua serpih-serpih yang ditemuinya di sekitar pantatku itu. Ciuman dan jilatan Rendi pada dubur lubang pembuangan kotorankuku itu benar-benar menjadikanku serasa terbang ke awang-awang nikmat tak terperi. Pada posisi berikutnya aku merasakan pinggul dan pantat Rendi mendorong kontolnya mendesak-desak pantatku.

Bandar Poker Online - Aku yakin batang hangat itu berusaha memasuki analku. Dan kegatalan yang datang dan tak mampu kutahan dan kuhindari membuat tanganku melakukan gerak refleks meraih batang kontolnya yang panjang itu. Alangkah mantapnya kontol Rendi dalam genggaman tanganku ini. Panjangnya, besar dan kerasnya. Dan tanganku ini begitu cepatnya memahami kemana maunya arah kontol itu. Di tempat lain, kegalauan telah lama menanti. Vaginaku telah kuyup oleh cairan birahiku sendiri. Vaginaku menghangat dalam lelehan lendir yang tak henti-hentinya mengalir keluar dari lubangnya. Kegatalan kemaluanku menunggu dengan gelisah tanpa sabar akan arahan tanganku yang kini gemetar, menuntun kontol Rendi menuju lubang nikmat nonokku. Aku merasakan katup bibir kemaluanku langsung mengencang seakan tidak rela kontol Rendi menembusnya.

Aku merasakan kegatalan pada tepi-tepi klitorisku yang terus mengeras tegang dan ketat menahan tusukan kontol Rendi. Tetapi itu hanyalah ironi dari keinginan yang meledak-ledak dalam bentuk penolakan "jangan - tidak" yang dibarengi gelinjang-gelinjang nafsu birahi dari seluruh tubuhku. Dan pada akhirnya semuanya tak ada yang mampu menghadang. Kontol Rendi dengan jamur dalam bulatan yang besar dan tumpul itu secara pelan dan pasti telah merangsek maju, menggedor-gedor gerbang vaginaku secara pasti dan tanpa kenal menyerah. Aku merasakan mili demi mili bagaimana kontol Rendi menerobos bibir dan kemudian dinding awal menuju lubang vaginaku. Aku merasakan saraf-sarafku yang karena kegatalan nikmatnya mencengkeram batang kontol Rendi yang semakin melesak ke dalam lubang kemaluanku. Aku mendengarkan dan merasakan bagaimana lenguh dan desah Rendi karena kontolnya merasakan nikmatnya lubang sempitku ini. Dan ketika batang itu telah terlahap seluruhnya,

Rendi menghentikan desakannya sesaat. Hatiku marah. Nafsuku meradang. Kurang ajar kamu Rendii.. mengapa kamu tega menyiksaku dengan caramu itu.. Dan dengan kejengkelan erotikku, tak ayal bokongku berusaha menjemput batang kontol itu agar tidak diam hingga membuatku tersiksa seperti ini. Ternyata memang benar, itu hanya sesaat. Dengan tangan kirinya, Rendi meraih rambutku yang telah berantakan terurai. Seperti sais menarik tali kekang kudanya, tangan Rendi menarik rambutku ke belakang hingga kepalaku dibuatnya terdongak. Dia benar-benar menjadikan rambutku seperti tali kekang kuda. Ditarik-tariknya sambil menghantamkan keluar masuk kontolnya ke memekku. 

"Ammpuunn Rendii.. kontolmu ituu.. aacchh..". Genjotan Rendi membuat seluruh ranjangku bergoyang tergoncang-goncang. Kenikmatan yang kuterima membuat tangan-tanganku meraba-raba berusaha mencari pegangan. Dan korbannya adalah seprei ranjangku yang jadi terbongkar tak karuan karena kuremas. Keringatku tak lagi mengenal toleransi. Mengucur deras mengiringi rintihanku yang dipenuhi kepiluan nikmat tak bertara. Setiap tusukan kontol Rendi ke kemaluanku selalu menghasilkan siksaan sekaligus kenikmatan yang tak mampu kutanggung sendiri. Rintihan itu seakan meminta, memohon, entah kepada siapa untuk turut berbagi siksa nikmat yang sedang melandaku. Rintihanku itu sepenuhnya melukiskan keadaanku yang dengan sepenuhnya sedang terjajah oleh nafsu dan birahi hewaniahku.

Rintihan itu terus menerus mengiringi kocokan kontol Rendi yang tidak menampakkan tanda-tanda kapan hendak berhenti. Kemudian, dengan tanpa mencabut kontolnya dari nonokku, Rendi meraih dan mengangkat kaki kiriku, membalikkan tubuhku kemudian mendorongnya sedikit lebih ke tengah ranjang pengantinku. Dan kaki kiriku tak pernah diturunkannya lagi, kecuali hanya disandarkannya pada bahunya yang membuat selangkanganku menjadi sangat terbuka sehingga nonokku menjadi sepenuhnya terkuak dan memudahkan Rendi meneruskan kocokannya pada lubang vaginaku ini. Kembali sensasi erotik birahiku dengan penuh nafsu menyerang.

Aku hanya bisa mengeluarkan racauan. "Teruuzzhh.. terruuzzhh Rendii.. teruuzzhh.. enhhaakk..", sambil ludahku muncrat-muncrat karena kehilangan kendali saraf mulutku dan dengan dibarengi oleh mataku yang melotot tanpa kedip. Gelombang kenikmatan yang mengalun bertalu-talu itu membuat seluruh tubuhku bergelinjang tak karuan. Tangan-tanganku berusaha menggapai payudaraku dan meremas-remasnya sendiri dalam upaya mengurangi deraan nikmat yang tanpa batas itu. Tanganku terus menerus dan semakin erat meremas kuat-kuat seluruh urat dalam payudaraku itu. Entahlah, kesadaranku rasanya tak tampak lagi, yang tersisa tinggal kenikmatan yang membuat seluruh tubuhku semakin tenggelam dan terperosok ke dalamnya. Kini Rendi menjatuhkan kakiku demikian saja dari bahunya.

Domino Online Uang Asli - Nafsunya yang buas dan liar merubuhkan tubuhnya ke atas tubuhku. Dengan genjotan kontolnya yang semakin cepat, ditindihnya aku. Bibirnya menjemput bibirku yang langsung kusambut dengan lahapnya. Ludah dan lidahnya kuhisap-hisap dengan penuh kehausan. Tangan Rendi yang langsung merangsek tubuhku dengan eratnya membuatnya menekankan bibirnya ke bibirku menjadikan seakan tubuh kami lengket tak terpisahkan. Dan tanganku yang juga memeluk tubuhnya yang bidang itu merasakan betapa keringat Rendi mengucur deras. Sementara kontol Rendi yang panjang itu makin cepat menghunjamkan batangnya ke vaginaku hingga terasa mentok pada lubang peranakanku.

Selama ini belum pernah ada yang mampu menyentuh lubang peranakanku. Panjangnya kontol Mas Adit yang hanya separohnya jelas tak akan pernah menyentuh titik lokasi ini. Sedangkan justru di situlah sebenarnya letak saraf-saraf peka yang mampu membuat perempuan menerima kenikmatannya dari kontol seorang lelaki. Aku sungguh-sungguh merasakan sangat beruntung dientot Rendi pagi ini. Dan kini yang aku rasakan adalah semacam aliran birahi yang mendesak dari lubang vaginaku untuk muncul ke permukaan. Seperti ingin kencing yang sangat mendesak. Saraf-saraf pada dinding vaginaku yang semakin ketat mencengkeram batang kontol Rendi menguncup antara melepas dan mencengkeram membuat rasa ingin kencing yang tak lagi mampu kubendung. Anehnya rasa ingin kencing itu justru ingin sekali kugapai.

Dan perasaan seperti ini belum pernah aku rasakan semenjak 8 tahun perkawinanku dengan Mas Adit. Apakah ini yang sering disebutkan sebagai orgasme? Apakah memang selama ini aku tidak pernah mendapakan orgasme? Apakah sepanjang hubungan seksku selama 8 tahun dengan Mas Adit tidak pernah sekalipun menghasilkan orgasme? Aku sendiri tidak tahu, apa sebenarnya orgasme itu. Tiba-tiba saja, juga dengan tanpa melepas kontolnya dari nonokku, Rendi mengangkat kaki kananku dan diseberangkan melewati tubuhnya yang merebah ke kanan tubuhku. Dan kini posisiku adalah miring membelakangi Rendi yang dengan tanpa berhenti bisa tetap mempertahankan kontolnya pada lubang memekku sambil terus menggenjotnya.  

Dengan cara memeluk tubuhku dari belakang, tangan Rendi langsung meremas payudaraku yang iramanya mengiringi genjotan kontolnya pada kemaluanku. Dan rasa ingin kencing itu membuatku nonokku terasa sedemikian gatalnya hingga dengan sepenuh kekuatan, aku menggoyang-goyangkuan pinggul dan pantatku untuk ikut menjemput kontol yang keluar masuk di liang vaginaku. Rasanya kegatalan ini tak akan mereda kembali. Aku berteriak, mengaduh, merintih dan berteriak kembali. Tempat tidurku bergoncang dengan hebatnya. Sepreiku sudah terlepas entah kemana. Kini aku raih kisi-kisi ranjangku kuat-kuat. Rasa ingin kencing itu tak lagi dapat terhindarkan. Rasa ingin kencing itu sudah sangat mendekati gerbang pertahanan terakhirnya untuk jebol. Rasa merinding dan gemetar langsung melanda seluruh tubuhku.  

"Rendii.., akuu.., oohh..", dan entah apa lagi yang kuteriakkan. Hingga akhirnya ada yang kurasakan sangat mencekam saraf-saraf vaginaku. Dengan kedutan-kedutan besar, serta dengan cengkeraman-cengkeraman pada kisi-kisi ranjang yang bisa membuat tangan-tanganku terluka, dengan keringatku yang mengucur membasahi dada, perut, rambutku maupun leherku, kutekan habis-habisan hingga mentok ke pintu peranakanku setiap kontol Rendi menusuk nonokku, terus kutekan, terus, hingga kurasakan ada sesuatu yang tumpah dari lubang vaginaku. Tumpahan-tumpahan dari lubang vaginaku itu rasanya mengalir tak henti-hentinya, sangat nikmat. Aku terkulai sesaat. Sementara itu kontol Rendi sama sekali belum menunjukkan akan selesai menggenjotku, bahkan semakin mempercepat kocokannya. Aku pasrah saja.

Walau sejenak setelah ada yang tumpah dari liang vaginaku tadi segala kegatalanku tadi langsung turun. Yang kurasakan sekarang adalah sedikit rasa pedih. Kocokan kontol Rendi mungkin membawa serta rambut-rambut di tepi vaginaku sehingga kemungkinan membuat bibir vaginaku terluka. Tetapi tak apalah. Toh sebanding dengan apa yang bisa kuraih pagi ini. Rupanya Rendi memang masih jauh dari tujuannya. Kontolnya yang besar panjang dan kaku itu, walaupun posisi Rendi berada di punggungku, tak ayal pula tetap saja ujungnya mampu menyentuh lubang peranakanku. Bahkan, kini dia raih tubuhku ke atas tubuhnya. Aku menjadi telentang menindih tubuhnya yang terus menancapkan dan menggejot nonokku. Kakunya itu, pajangnya itu, besarnya itu membuat seakan tak ada celah yang tersisa lagi dalam ruang kemaluanku yang memang menjadi sangat menyempit dan terus menerus menggedor lubang peranakanku. Rasanya Rendi memerlukan bantuanku. Aku berusaha bangkit untuk mencoba membantunya.

Mungkin dengan menggoyangkan pinggul dan pantatku akan dapat mengimbangi genjotannya yang semakin menggila. Bahkan kemudian aku bergerak bangun setengah menduduki selangkangannya dengan kedua tanganku masih bertumpu pada dada gempal Rendi sehingga kontol Rendi dapat sepenuhnya masuk dalam lahapan vaginaku dan kuikuti genjotannya dengan menaikturunkan pantatku. Payudarahku ikut tergoncang-goncang. Rambutku terhambur ke kanan maupun kiri. Sungguh edan kontol ini.

Hal yang sama sekali tidak kuperkirakan semula adalah, posisi yang sedang aku lakoni ini justru menjadi bumerang yang berbalik dan mendongkrak gelora birahiku kembali. Rasa gatal pada dinding vaginaku datang kembali. Dorongan nafsu merenggut seluruh saraf-saraf pekaku kembali. Dan rasa lemasku langsung lenyap diganti dengan semangat untuk menggenjot kontol Rendi agar dapat lebih dalam merasuki vaginaku. Aku kembali kesetanan. Kembali merintih dan mendesah. Kembali mencakar dan meremas bukit-bukit gempal tubuh Rendi. Dan akulah kini yang mempercepat keluar masuknya kontol itu ke nonokku.

Batang yang besar, panjang dan kerasnya bukan main itu membuatku bahkan lebih terbakar daripada yang pertama tadi. Aku berteriak sebagai ganti desahanku. Aku berteriak sebagai ganti rintihanku. Aku berteriak menjemput nikmat tak terperikan ini. Dan saat itulah aku merasakannya kembali. Dari lubuk kedalaman nonokku, desakan ingin kencing kembali mengejar ke depan gerbang vaginaku. Karena kini aku tahu betapa nikmatnya menumpahkan desakan dari dalam tadi. Genjotan dan naik turun pantatku kubuat semakin menggila. Kulihat sepasang payudaraku terlempar ke atas ke bawah. Aku sudah semakin tidak peduli lagi pada rambutku. Gerbang vaginaku telah sepenuhnya siap menyambut. Dan dengan teriakan yang paling keras, orgasmeku kembali hadir.  

Tiba-tiba ada rasa benci dan marah yang menyelinap di celah-celah membanjirnya tumpahan vaginaku. Aku benci dan marah kepada suamiku. Aku merasa dipecundangi selama 8 tahun perkawinanku dengannya. Aku merasa di lecehkan. Aku tidak sepenuhnya percaya bahwa Mas Adit tidak mampu memberikan kenikmatan sebagaimana yang kuterima dari Rendi hari ini. Aku merasa bahwa Mas Adit tidak bersungguh-sungguh mengusahakan dan memberikan kepuasan orgasme padaku istrinya. Saat itu pula aku meraung menangis. Aku menangis sejadi-jadinya. Dan Rendi yang belum menyadari keadaanku, yang mungkin juga tidak mau tahu keadaanku, sementara kontolnya memang juga masih terus menggenjot nonokku, kembali meraih tubuhku agar merapat ke tubuhnya. Ketiakku dia serang habis-habisan. Payudaraku diremasnya habis-habisan. Aku tahu. Rendi hampir mencapai puncak kenikmatan seksual.

Pasti sperma Rendi sudah merasuk ke batangnya untuk dimuncratkan ke dalam nonokku. Tetapi aku meraskan sakit yang amat sangat. Aku langsung berontak merasakan sakit yang amat sangat pada nonokku. Genjotan Rendi yang tak habis-habisnya rasanya telah mengiris-iris vaginaku. Aku tidak tahan lagi. Aku bangkit dan turun dari ranjangku. Rupanya Rendi salah pengertian dengan sikapku ini. Dia berfikir bahwa aku ingin mengubah posisiku. Teriakan kesakitanku tadi dianggapnya sebagai teriakan kenikmatan. Begitu aku turun, dia langsung ikut menyusul turun. Dia berdiri dan pundakku dicekalnya dan kemudian menekannya agar aku berjongkok. Kemudian dia jaMbak rambutku dan menengadahkan mukaku.  

"Ayoo Mbak Marr, ayoo Mbak Aditt, telaann.. minuumm..", dia meracau. Dia sodorkan kontol besarnya ke mulutku. Aku harus menghisapnya. Sperma yang sudah dekat ke pintu keluarnya akan dia tumpahkan ke mulutku. Karena rasa sakit pada nonokku itu, aku sudah tak mampu lagi berfikir jernih. Pilihan ini akan lebih baik daripada nonokku harus jebol, pikirku. Di samping itu, hati kecilku jadi terobsesi sejak aku dipaksanya untuk mengulum kontolnya pada awal dia memasuki kamar tidurku tadi. Hati kecilku ingin merasakan spermanya tumpah di mulutku. Hati kecilku menginginkanku meminum air maninya. Hati kecilku ingin merasakan tenggorokanku dihangati oleh lendir-lendir hangatnya. Hati kecilku menginginkanku meminum sperma dari kontol Rendi yang telah memberikanku kepuasan orgasme yang belum pernah seumur hidup kudapatkan. Dan hati kecilku juga ingin aku membuktikan bahwa aku bisa memberikan kepuasan yang dahsyat itu pula kepadanya. Kuraih kontol Rendi dan melumatnya sepuas hatiku. Sepuas nafsuku. Sepuas kehausan nafsuku.

Kepalaku mengangguk-angguk memompa kontol itu dengan mulutku. Dan akhirnya terdengar suara Rendi yang meregang. Desahan dan rintihannya memenuhi ruang sempit kamar pengantinku. Entah sudah berapa mililiter sperma Rendi tumpah ruah ke mulutku. Aku berusaha agar tak ada setetespun yang tercecer. Kini aku terdorong berusaha menelan seluruh air maninya. Memang dulu pernah aku dipaksa Mas Adit suamiku, untuk mengulum kontolnya dan meminum air maninya. Tetapi waktu itu reaksiku adalah perasaan jijik. Aku langsung muntah-muntah saat lendir Mas Adit terasa menyemprot dalam mulutku. Selanjutnya Mas Adit tidak lagi pernah memaksa. Tetapi pada Rendi ini, yang bukan suamiku, justru aku yang merasa menginginkannya. Dan sama sekali tak ada rasa jijikku. Bahkan aku merasakan kerakusan hewaniah saat tenggorokanku merasakan aliran lendir yang disemprotkan terus menerus milik Rendi ini.

Rasanya aku menginginkannya lebih banyak lagi, lebih banyak lagi, lebih banyak lagi. Dan akhirnya redalah semua prahara. Kami sama-sama tergolek kelelahan. Kami telentang telanjang di ranjang. Kamar pengantinku dipenuhi nafas-nafas memburu dari para ahli selingkuh pengejar nikmat nafsu birahi ini. Sejenak kami terlena. Aku sedikit gelagapan saat Rendi membangunkanku. Kulihat dia sudah rapi untuk kembali ke kantornya. Tangannya masih menyempatkan untuk mengelus dan memainkan jari-jarinya ke nonokku. Aku melenguh manja. Kami berpelukan dan saling memagut sesaat. Sebelum dia pergi aku tanya pada Rendi, kenapa dia begitu PD (percaya diri) dan yakin saat telanjang di depanku pada awal berada di kamarku tadi. Dia tidak menjawab kecuali menunjukkan senyumnya yang tipis. Apakah dia tidak khawatir aku akan menggebuknya dengan sapu lidiku yang kebetulan berada di tanganku tadi. Kembali dia tidak menjawab kecuali dengan senyumannya lagi. Dan aku memang tidak terlalu menginginkan jawabannya. Aku juga meyakini, 90 diantara 100 perempuan, entah itu gadis, istri ataupun janda, apabila dihadapkan pada pemandangan yang sedemikian spektakuler sebagaimana tampilan kontol super besar dengan pria macho yang setengah telanjang tadi, pasti akan langsung jatuh terduduk.

Kekuatan sihir dari penampilan Rendi dan kontolnya akan mampu menghempaskan harga diri setiap wanita hingga di lantai yang paling bawah. Dan mereka akan merelakan dirinya untuk dijadikan sekedar obyek pemuasan seperti tadi. Demikian pulakah aku? Ah, persetan dan peduli amat, pokoknya hari ini aku telah berhasil meraih orgasmeku yang pertama kali dalam hidupku. Persetan, persetaann.. Kemudian aku bertanya pula, mengapa saat pertama kali datang dan turun dari mobil sepertinya dia terkesan sangat sopan dan sama sekali tidak menampakkan akan berlaku 'kurang ajar' seperti tadi? Kali ini dia mau menjawab. Dia menceritakan pandangan teman-temannya bahwa di antara para istri teman-teman satu kantor, yang paling cantik adalah istri Pak Adit. Teman-teman bilang bahwa Bu Adit itu sangat sensual. Pakai busana apa saja selalu nampak cantik. Dan secara berkelakar mereka bilang, penampilan yang paling cantik dari istri Pak Adit tentu saja adalah saat tanpa memakai busana sama sekali, alias saat telanjang. Ampuunn, deh.  

Sudah lama sebenarnya Rendi mendengar perihal diriku dan kemudian banyak memperhatikanku. Pada beberapa kali pertemuan atau hajatan antar teman sekantor dia banyak mengamatiku. Naluri kelelakiannya mendorong untuk selalu mencari kesempatan. Dan ketika kemarin Mas Adit menyuruhnya untuk ke rumah mengambil file dari komputernya, dia tahu bahwa inilah kesempatan emas baginya. Dengan sungguh-sungguh dia berancang-ancang dan mempersiapkan dirinya. Dia akan berusaha tampil secara "low profile" agar tidak mengundang kekhawatiran ataupun kecurigaanku, begitu ceritanya. Dia juga berusaha untuk seakan-akan tidak mengambil perhatian padaku. Kurang ajar juga kau Rendi, batinku.  

Dia juga menceritakan bahwa wanita sepertiku pasti memiliki nafsu seksual yang luar biasa. Rendi mengutarakan pendapatnya dengan gaya bagai seorang pakar seksual. Posturku yang relatif kecil dengan pinggul, bokong, gaya berdiri maupun sensual bibirku yang katanya persis bibir Sarah Ashari, rambutku yang lurus yang juga dia katakan seperti rambut Sarah Ashari, betisku yang mulus kencang dan segudang lagi pujian gombalnya yang sepenuhnya mencitrakanku sebagai seorang perempuan yang paling sempurna untuk diajak ke atas ranjang. Edan, beraninya kau membicarakan daya tarik seksual istri temannya sendiri, kataku yang disambutnya dengan tawa lepas.

Aku tahu bahwa itu semua merupakan dramatisasi Rendi sendiri. Tetapi apapun yang terjadi, ucapan Rendi itu membuatku berbunga-bunga, walaupun juga setengah malu-malu. Dan ada beberapa hal yang kuakui bahwa ada benarnya omongan Rendi. Khususnya yang berkaitan dengan soal ranjang tadi tidak terlampau meleset. Aku memang merasa selalu kehausan. Apa lagi kalau sering kudengar dari teman atau tetangga, bagaimana mereka mendapatkan kepuasan lahir batin dalam hubungan intimnya dengan suami-suami mereka. Yang kurang ajar lagi, Rendi juga bilang bahwa nonokku yang seperti nonok perawan, dan nonok seperti itu pasti belum pernah merasakan kontol macam punyanya, katanya sambil melirikkan matanya. Dia menyindirku rupanya. Aku hanya tersenyum sebagaimana dia menjawab pertanyaanku tadi. Yang dia maksudkan pasti bahwa kontol Mas Adit yang kecillah yang membuat nonokku tetap sempit seperti nonok perawan.

Aku tertawa nyengir saja memikirkan semua itu. Terus terang walaupun kenyataannya pahit, bagaimanapun apa-apa yang disampaikan Rendi tadi membuatku sangat tersanjung rasanya. Aku jadi semakin percaya diri. Pernyataan yang Rendi katakan itu juga sering kudengar dari lelaki maupun perempuan lain di sekitarku. Kali ini aku menjadi semakin percaya bahwa aku memiliki ciri-ciri sebagai perempuan yang sangat cantik dan menarik. 
 

"Besok aku telepon ya, Mbak. Pak Adit baru minggu depan khan pulangnya?!".  

Aku tidak bilang "ya", tapi juga tidak bilang "tidak". Que sera sera..

 
*******************         ****************             ******************

Peristiwa air mani Rendi yang muncrat ke mulutku pada akhir selingkuh hari ini tadi tiba-tiba terlintas dalam bayanganku dan membuat libidoku kembali bergetar. Hari itu, hingga sore dan malam menjelang tidur, nikmat selingkuh bersama Rendi tadi terus menerus membayang ke manapun aku bergerak dalam rumahku. Rasa pedih dan perih sekaligus nikmatnya nonokku ingin rasanya kuabadikan. Aku ingin selalu bisa mengenang dan selalu berada dalam kenangan Rendi. Ini bukanlah peristiwa seperti halnya jatuh cinta. Ini adalah peristiwa dimana pejantan bertemu betina. Setiap kali berjumpa yang dipikirkan tidak lebih dari soal perselingkuh mengejar pemuasan nafsu birahi.  

Hampir sepanjang malam aku kesulitan tidur, gejolak libidoku dengan lembut terus membisiki telingaku. "Lihatlah kontolnya, lihatlah belahan lubang kencing di kepalanya yang sangat sensual itu, lihatlah batangnya yang seperti patung lilin Madame Tussaud, lihatlah selangkangannya yang sangat mengundang lidah untuk menjelajahinya, lihatlah dadanya yang mengundang bibir dan lidahku, lihatlah ketiaknya, lembahnya, aromanya, bulu-bulu halusnya..".  

Entah sudah pukul berapa saat teleponku berdering. Aku meloncat bak rusa betina. Meradang dan menerjang. Hampir saja aku jatuh tersandung kaki meja makanku. Hatiku seperti anak kecil yang sedang menunggu Papanya pulang membawa mainan yang dijanjikannya. Dengan cepat kuraih gagang telepon itu. Ah.., aneh.. aku kecewa. Ternyata hanya Mas Adit. Hanya..? Hanya..? Dia bilang bahwa ia akan pulang hari Senin minggu depan. Dia juga bertanya apakah Rendi tidak kesulitan mengambil file dari komputernya. Dia juga menanyakan hal-hal rutin lainnya. Terus terang aku telah kehilangan semangat untuk menjawabnya.

Semua kujawab seperlunya saja. Juga saat dia bilang bahwa dia sudah membeli kain tenun asli Banjarmasin untukku, yang memang dia janjikan sebelum pergi, rasanya aku menerima kabar itu dengan biasa-biasa saja. Pagi ini yang kutunggu dengan harap-harap cemas hanyalah telepon Rendi. Semalaman aku sudah kurang tidur. Semalaman aku hanya mencoba mengingat-ingat bagaimana kontol besar Rendi dengan 'kejam'-nya merobek-robek nonokku. Semalaman aku hanya ingin kembali mengulangi kenikmatan tak terperikan itu. Kenikmatan yang menghasilkan kepuasan tak terhingga sampai-sampai aku dapat merasakan betapa nikmat dan penuh maknanya orgasme itu bagiku.

 
Bersambung...............


Petualangan Seks Terliar By BokepTerkini.com, cerita dewasa, cerita panas, cerita sex, cerita mesum, cerita porno, cerita bokep indo, cerita ngentot, kisah pengalaman seks


close
 photo baneergarisnegaraqq1_zpsuusvdv2c.gif